|
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Keberhasilan
suatu bangsa dalam melaksanakan pembangunan bergantung pada kualitas
manusianya.Sementara untuk mendapatkan
manusia yang berkualitas harus melalui
proses yang membutuhkan pengorbananpada setiap jenjang pendidikan.Dalam
proses tersebut manusia dibimbing dan diarahkan oleh penggerak yang tidak lain
adalah guru atau tenaga pengajar.
Berbagai upaya
telah dilaksanakan oleh pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menghasilkan manusia yang
berkualitas.Seperti adanya penyempurnaan atau perbaikan kurikulum,pengadaan
sarana atau prasarana, penataan dan penambahan tingkat pendidikan bagi tenaga
pendidik serta pemantapan pendekatan proses belajar mengajar.
Hal ini sejalan dengan pendapat (Usman
,1993:1) yang mengatakan bahwa berbagai upaya pembenahan sistem pendidikan dan
perangkatnya di Indonesia terus dilakikukan , akibatnya muncul beberapa
peraturan pendidikan untuk saling melengkapi dan menyempurnakan peraturan yang
sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan saat ini.Hal ini dilakukan untuk
meningkatkan produktifitas kerja guru karena kemampuan profesionalguru amatlah
pentiing dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan.
Pendapat
diatas ini menitik beratkan pada keprofesional seseorang gurukarenalah gurulah
yang berperan penting dalam mencapai
keberhasilan pendidikan.Selain itu guru pulalah yang berhadapan langsung
dengan siswa.Untuk itu berkewajiban meningkatkan kemampuan profesonalnya terutama
dalam hal pengaktifan siswa dalam belajar.
Usaha
pemerintahan tersebut diarahakan pada pencapaian tujuan belajar mengajar secara
maksimal dan berorientasi pada peningkatan hasil belajar peserta didik, namun
karena sebanyak nya variabel yang berpengaruh terhadap hasil belajar , maka
yang diharapkan belum tercapai secara maksimal.oleh sebab itu peranan guru
sangat dibutuhkan dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Untuk
mencapai tujuan pendidikan serta manusia yang berkualitas tidak hanya
ditentukan oleh rumusan tujuan pendidikan yang mantap , kelengkapan sekolah,
kecerdasan pesesrta didik serta ketatnya peraturan sekolah.Sebagai pendidik
diharapkan membantu peserta didik untuk dapat menerima dan memahami serta menguasai ilmu pengetahuan.untuk itu
pendidik hendaknya mampu mengaktifkan siswa saat proses belajar
mengajar.pengaktifan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan motivasi
belajar.
Khairanis dan
Arief (2002 : 102) menjelaskan bahwa
“Motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan,
mengarahkan, dan menjaga tingkah laku dalam melakukan sesuatu, sehingga
mencapai hasil dan tujuan tertentu”.
Mc Donald (
dalam Sardiman, 2011 : 73 ) mengatakan bahwa : “Motivasi adalah perubahan
energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya perasaan dan
didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan”. Dari penjelasan di atas
Sardiman (2011 : 75) menjelaskan lagi bahwa :
“Motivasi dapat juga dikatakan
serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga
seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila ia tidak suka maka akan
berusaha untuk menghilangkan, meniadakan atau menggelakkan perasaan tidak suka
itu”.
Dari pendapat diatas sangat jelas bahwa
motivasi sangat penting dalam proses belajar mengajar agar hasil belajar siswa
meningkat.namun pada kenyataannya yang ada dilapanganpemberian motivasi kurang
diperhatikan oleh pendidik .padahal ada beberapa bentuk-bentuk motivasi
khususnya dalam proses belajar mengajar yang baik agar siswa lebih giat
belajar.
Berdasarkan latar belakang permasalahan
tersebut, maka rumusan masalah yang ingin di ungkap dalam penelitian ini adalah
:
1.
Pengertian
motivasi.
2.
Fungsi
motivasi.
3.
Jenis-jenis
motivasi.
4.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi.
5.
Pengertian
prestasi belajar .
6.
apa
saja yang mempengaruhi prestasi belajar.
C. Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah dan identifikasi masalah diatas, maka perumusan masalah
makalah ini adalah seberapa pentingnya pemberian motivasi dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa.
1. Untuk mengetahui pentingnya pemberian motivasi dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa.
2. Dan untuk melengkapi salah satu tugas dari salah satu
mata kuliah Penulisan Karya Ilmiah.
BAB II
LANDASAN
TEORI
A. Pengertian
Motivasi
Motivasi berasal dari kata “motif”, diartikan
sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif
dapat di katakan sebagai daya penggerak dari dalam diri untuk melakukan
aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Bahkan motif dapat di artikan
sebagai suatu kesiapsiagaan. Berawal dari kata “motif” itu, maka motivasi dapat
di artikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif.
Khairanis dan Arief (2002 : 102)
menjelaskan bahwa “Motivasi adalah suatu
usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan, dan menjaga tingkah laku
dalam melakukan sesuatu, sehingga mencapai hasil dan tujuan tertentu”.
Mc Donald ( dalam Sardiman, 2011 : 73 )
mengatakan bahwa : “Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang
ditandai dengan munculnya perasaan dan didahului dengan tanggapan terhadap
adanya tujuan”. Dari penjelasan di atas Sardiman (2011 : 75) menjelaskan lagi
bahwa :
“Motivasi dapat juga
dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu,
sehingga seseorang itu mau dan ingin melakukan sesuatu dan bila ia tidak suka
maka akan berusaha untuk menghilangkan, meniadakan atau menggelakkan perasaan
tidak suka itu”.
Menurut Thomas M.Risk dalam ahmad rohani (2004: 11) motivasi adalah usaha
yang di sadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta
didik /pelajar yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar.
Kemudian, Ahmad Rohani
(2004:11) mengemukakan:
Motivasi anak / peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa
sehingga anak itu mau melakukan apa yang dapat di lakukan nya. Menjadi jelaslah
bahwa salah satu masalah yang dihadapi guru untuk menyelenggarakan pengajaran
adalah bagaimana memotivasi atau menumbuhkan motivasi dalam diri peserta didik
secara efektif. Keberhasilan suatu pengajaran sangat di pengaruhi oleh adanya
penyediaan motivasi/dorongan.
Berdasarkan defenisi di atas maka dapat
disimpulkan motivasi adalah perubahan energi untuk melakukan serangkaian usaha
sehingga tercapai tujuan yang diinginkan dengan menghilangkan atau meniadakan
hambatan-hambatan yang ada. Peranan motivasi yang khas dalam hal penumbuhan
gairah, merasa senang dan semangat untuk melakukan sesuatu. Dalam motivasi
terkandung adanya keinginan yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan dan
mengarahkan sikap dan perilaku individu. Dorongan kekuatan mental untuk melakukan
kegiatan dalam rangka memenuhi harapan atau pencapaian tujuan. Motivasi juga
dapat dikatakan hasrat, keinginan, maksud, tekad, kemauan, dorongan, kebutuhan,
kehendak, cita-cita, keharusan, kesediaan, dan sebagainya. Dalam hal ini sudah barang
tentu peran guru sangat penting. Bagaimana guru melakukan usaha untuk dapat
menumbuhkan dan memberikan motivasi agar anak didik nya melakukan aktivitas
belajar yang baik. sardiman (2005:74-75).
B. Fungsi
Motivasi
Menurut
Sardiman (2011:85) ada tiga fungsi motivasi yaitu :
1)
Mendorong manusia yang berbuat, jadi
sebagai penggerak yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan
motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2) Menentukan
arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah
dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3)
Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan
perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan
dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan
tersebut.
Ahmad rohani (2004:11)
mengemukakan fungsi motivasi dalam proses pembelajaran:
1)
Memberi semangat dan mengaktifkan peserta didik
supaya tetap berminat dan siaga.
2)
Memusatkan perhatian peserta didik pada tugas-tugas
tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar
3)
Membantu memenuhi kebutuhan hasil jangka pendek dan
hasil jangka panjang.
Di samping itu
ada juga fungsi lain, motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan
pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi.
C.
Jenis-Jenis Motivasi
Berdasarkan munculnya motivasi maka
motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1) Motivasi
intrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi, tidak perlu
dirangsang dari luar, karena dalam diri individu telah ada dorongan untuk
melakukan sesuatu.
2) Motivasi
ekstrinsik yaitu motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsi adanya rangsangan
dari luar (Djamara 2002:52).
Jadi
dapat disimpulkan bahwa motivasi intrinsik dan ekstrinsik sangat diperlukan
dalam belajar sehingga proses belajar mengajar yang diperlukan akan memperoleh
hasil yang memuaskan. Dengan motivasi, siswa dapat mengembangkan aktivitas dan
inisiatif untuk melakukan kegiatan belajar. Dalam proses belajar mengajar,
motivasi intrinsik lebih menguntungkan karena bisa tahan lama. Motivasi
ekstrinsik dapat diberikan oleh guru dengan jalan mengatur kondisi dan situasi
belajar menjadi kondusif. Motivasi yang semula bersifat ekstrinsik lambat laun
diharapkan akan berubah menjadi motivasi intrinsik
D. Faktor-faktor
yang mempengaruhi motivasi
Mudjiono (2003: 92) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi
belajar, antara lain :
1)
Cita-cita atau persaingan
Hal ini akan memberikan pengaruh dalam diri
siswa dimana setiap siswa mempunyai cita-cita dan tujuan yang berbeda.
2)
Kemampuan siswa atau usaha siswa
Untuk itu di butuhkan usaha dari siswa untuk
mencapai hasil belajar yang optimal.
3)
Kondisi siswa atau suasana hati
Kondisi siswa meliputi
kondisi jasmani dan rohani. Siswa akan mengalami ganguan dengan motivasi dan
semangat belajar jika siswa berada dalam kondisi yang tidak baik. Seseorang
yang sedang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar,
sebaliknya seseorang siswa yang kenyang, sehat dan gembira akan mudah
memusatkan perhatian”.
4)
Kondisi lingkungan siswa
Dengan terciptanya lingkungan belajar yang aman,tentram,tertib dan
disiplin maka motivasi belajar akan meningkat.
5)
Unsur -unsur dinamis siswa dalam pembelajaran
Dalam pengajaran guru
hendaknya dapat bermanfaatkan segala fasilitas penunjang yang dapat
mendinamiskan pembelajaran sehingga menimbulkan ketertarikan pada siswa.
Pembelajar yang masih berkembang jiwa raganya, lingkungan yang semakin
bertambah baik berkat dibangun, merupakan kondisi yang bagus bagi pembelajaran.
Guru professional diharapkan mampu memanfaatkan surat kabar, majalah, siaran
radio, TV dan sumber belajar di sekitar sekolah untuk memotivasi belajar.
6)
Upaya guru membelajarkan siswa
Peranan guru dalam
memotivasi siswa dalam belajar diharapkan dapat mengembangkan aktivitas dan
inisiatif siswa agar selalu tekun dalam belajar maka diharapkan mutu pendidikan
juga akan meningkat
Dari
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar di atas dapat disimpulkan
bahwa motivasi siswa muncul tidak hanya dari dalam diri siswa itu sendiri,
tetapi lingkungan juga mempengaruhi motivasi belajar siswa. Apabila kemauan dan
kemampuan dari dalam diri siswa dan didukung oleh lingkungan yang baik akan
meningkatkan motivasi belajar dan adanya kerja sama antara lingkungan sekolah
dan guru akan sangat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Memberikan
motivasi kepada seorang siswa, berarti menggerakkan siswa untuk melakukan sesuatu
atau ingin melakukan sesuatu. Motivasi yang ada pada diri setiap orang itu
menurut Sardiman (2011:83) memiliki
ciri-ciri sebagai berikut :
a) Tekun
menghadapi tugas-tugas (dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama dan
tidak berhenti sebelum selesai)
b) Ulet
dalam menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)
c) Lebih
senang bekerja sendiri
d) Tidak
cepat bosan pada tugas yang rutin (hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang
begitu saja sehingga kurang kreatif)
e) Dapat
mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin dengan sesuatu)
Intensitas
motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi
belajarnya. Mengingat pentingnya peranan motivasi bagi siswa dalam belajar maka
guru diharapkan mampu menumbuhkan dan meningkatkan motivasi belajar siswanya
dengan member penguatan yang tepat dan sesuai dengan kondisi siswanya. Guru
harus menuntun siswa sesuai dengan kaidah yang baik dan mengarahkan
perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan, termasuk
dalam hal ini yang penting ikut memecahkan persoalan-persoalan atau kesulitan
yang dihadapi anak didik.
E. Teori-Teori
Motivasi
1)
Teori Insentif:
Yaitu teori yang mengatakan bahwa seseorang akan bergerak atau mengambil
tindakan karena ada insentif yang akan dia dapatkan. Misalnya, Anda mau bekerja
dari pada sampai sore karena Anda tahu bahwa Anda akan mendapatkan intensif
berupa gaji. Jika Anda tahu akan mendapatkan penghargaan, maka Anda pun akan
bekerja lebih giat lagi. Yang dimaksud insentif bisa tangible atau intangible.
Seringkali sebuah pengakuan dan penghargaan, menjadi sebuah motivasi yang
besar.
2)
Dorongan Bilogis:
Dalam hal ini
yang dimaksud bukan hanya masalah seksual saja. Termasuk di dalamnya dorongan
makan dan minum. Saat ada sebuah pemicu atau rangsangan, tubuh kita akan
bereaksi. Sebagai contoh, saat kita sedang haus, kita akan lebih haus lagi saat
melihat segelas sirup dingin kesukaan Anda. Perut kita akan menjadi lapar saat
mencipum bau masakan favorit Anda. Bisa dikatakan ini adalah dorongan fitrah
atau bawaan kita sejak lahir untuk mempertahankan hidup dan keberlangsungan
hidup.
3)
Teori Hirarki Kebutuhan:
Teori ini dikenalkan oleh Maslow sehingga kita mengenal hirarki kebutuhan
Maslow. Teori ini menyajikan alasan lebih lengkap dan bertingkat. Mulai dari
kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan kemanan, kebutuhan akan pengakuan sosial,
kebutuhan penghargaan, sampai kebutuhan akan aktualisasi diri.
4)
Takut Kehilangan vs Kepuasan:
Teori ini mengatakan bahwa apda dasarnya ada
dua faktor yang memotivasi manusia, yaitu takut kehilangan dan demi kempuasan
(terpenuhinya kebutuhan). Takut kehilangan adalah adalah ketakutan akan
kehilangan yang sudah dimiliki. Misalnya seseorang yang termotivasi berangkat
kerja karena takut kehilangan gaji. Ada juga orang yang giat bekerja
demi menjawab sebuah tantangan, dan ini termasuk faktor kepuasan. Konon, faktor
takut kehilangan lebih kuat dibanding meraih kepuasan, meskipun pada sebagian orang terjadi
sebaliknya.
5)
Kejelasan Tujuan:
Teori ini mengatakan bahwa kita akan bergerak jika kita memiliki tujuan
yang jelas dan pasti. Dari teori ini muncul bahwa seseorang akan memiliki
motivasi yang tinggi jika dia memiliki tujuan yang jelas. Sehingga muncullah
apa yang disebut dengan Goal Setting (penetapan tujuan)
F.
Pengertian prestasi belajar
Prestasi belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri
dari dua kata yaitu prestasi dan belajar.Antara kata prestasi dan belajar
mempunyai arti yang berbeda.Oleh karena itu, sebelum pengertian prestasi belajar, ada
baiknya pembahasan ini diarahkan pada masing-masing permasalahan terlebih
dahulu untuk mendapatkan pemahaman lebih jauh mengenai makna kata prestasi dan
belajar.Hal ini juga untuk memudahkan dalam memahami lebih mendalam tentang
pengertian prestasi belajar itu
sendiri. Di bawah ini akan dikemukakan beberapa pengertian prestasi dan belajar
menurut para ahli.
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah
dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah,
1994:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (1994:21)
bahwa prestasi adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil
yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas,
jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun
intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat
dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,
diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja,
baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.
Menurut Slameto (1995 : 2) bahwa belajar adalah
suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan
tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana
yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang
hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri
individu. Sedangkan menurut Nurkencana (1986 : 62) mengemukakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang
telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan
bahwa prestasi belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri
individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami
bahwa prestasi belajar adalah hasil atau taraf kemampuan yang telah dicapai
siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik
berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan
diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan.
G. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar :
1. Faktor dari
dalam diri siswa (intern)
Sehubungan dengan faktor intern ini ada tingkat yang
perlu dibahas menurut Slameto (1995 : 54) yaitu faktor jasmani, faktor
psikologi dan faktor kelelahan.
a. Faktor
Jasmani
1) Faktor
kesehatan
Faktor kesehatan sangat berpengaruh terhadap proses
belajar siswa, jika kesehatan seseorang terganggu atau cepat lelah, kurang
bersemangat, mudah pusing, ngantuk, jika keadaan badannya lemah dan kurang
darah ataupun ada gangguan kelainan alat inderanya.
2) Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang
baik atau kurang sempurnanya mengenai tubuh atau badan.Cacat ini berupa buta,
setengah buta, tulis, patah kaki, patah tangan, lumpuh, dan lain-lain.
b. Faktor
psikologis
1) Intelegensi
Intelegensi atau kecakapan terdiri dari tiga jenis
yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru
dan cepat efektif mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara
efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
2) Perhatian
Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi jiwa
itupun bertujuan semata-mata kepada suatu benda atau hal atau sekumpulan
obyek.Untuk menjamin belajar yang lebih baik maka siswa harus mempunyai
perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya. Jika bahan pelajaran tidak menjadi
perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar.
Agar siswa belajar dengan baik, usahakan buku pelajaran itu sesuai dengan hobi
dan bakatnya.
3) Bakat
Bahwa bakat adalah the capacity to learn. Dengan kata
lain, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan terealisasi
pencapaian kecakapan yang nyata sesudah belajar atau terlatih.
4) Minat
Minat adalah menyakut aktivitas-aktivitas yang dipilih
secara bebas oleh individu. Minat besar pengaruhnya terhadap aktivitas belajar
siswa, siswa yang gemar membaca akan dapat memperoleh berbagai pengetahuan dan
teknologi. Dengan demikian, wawasan akan bertambah luas sehingga akan sangat
mempengaruhi peningkatan atau pencapaian prestasi belajar siswa yang seoptimal
mungkin karena siswa yang memiliki minat terhadap sesuatu pelajaran akan
mempelajari dengan sungguh-sungguh karena ada daya tarik baginya.
5) Motivasi
Motivasi erat sekali hubungannya dengan tujuan yang
akan dicapai dalam belajar, di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau
tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang
menjadi penyebab berbuat adalah motivasi itu sendiri sebagai daya penggerak
atau pendorongnya.
6) Kematangan
Kematangan adalah sesuatu tingkah atau fase dalam
pertumbuhan seseorang di mana alat-alat tubuhnya sudah siap melaksanakan
kecakapan baru.
Berdasarkan haldi atas,
maka kematangan adalah suatu organ atau alat tubuhnya dikatakan sudah matang
apabila dalam diri makhluk telah mencapai kesanggupan untuk menjalankan
fungsinya masing-masing kematang itu datang atau tiba waktunya dengan
sendirinya, sehingga dalam belajarnya akan lebih berhasil jika anak itu sudah
siap atau matang untuk mengikuti proses belajar mengajar.
7) Kesiapan
Kesiapan siswa dalam proses belajar mengajar, sangat
mempengaruhi prestasi belajar siswa, dengan demikian prestasi belajar siswa
dapat berdampak positif bilamana siswa itu sendiri mempunyai kesiapan dalam
menerima suatu mata pelajaran dengan baik.
c.
Faktor kelelahan
Kelelahan jasmani dan rohani dapat mempengaruhi
prestasi belajar dan agar siswa belajar dengan baik haruslah menghindari jangan
sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya seperti lemah lunglainya
tubuh.Sehingga perlu diusahakan kondisi yang bebas dari kelelahan rohani
seperti memikirkan masalah yang berarti tanpa istirahat, mengerjakan sesuatu
karena terpaksa tidak sesuai dengan minat dan perhatian.Ini semua besar sekali
pengaruhnya terhadap pencapaian prestasi belajar siswa.Agar siswa selaku
pelajar dengan baik harus tidak terjadi kelelahan fisik dan psikis.
2.
Faktor yang
berasal dari luar (faktor ekstern)
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapatlah
dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor
masyarakat (Slameto, 1995 : 60).
a) Faktor
keluarga
Faktor
keluarga sangat berperan aktif bagi siswa dan dapat mempengaruhi dari keluarga
antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, keadaan
keluarga, pengertian orang tua, keadaan ekonomi keluarga, latar belakang
kebudayaan dan suasana rumah.
Faktor sekolah dapat berupa caraguru mengajar,
ala-alat pelajaran, kurikulum, waktu sekolah, interaksi guru dan murid,
disiplin sekolah, dan media pendidikan.
c) Faktor
Lingkungan Masyarakat
Faktor yang mempengaruhi terhadap
prestasi belajar siswa antara lain teman bergaul, kegiatan lain di luar sekolah
dan cara hidup di lingkungan keluarganya.
BAB III
PEMBAHASAN
A.Pentingnya
Pemberian Motivasi Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
Pendidikan merupakan suatu
kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, sehingga di manapun terdapat
masyarakat di situ pula terdapat pendidikan. Dan pendidikan itu sendiri
merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat, pemerintah dan keluarga.
Pendidik mempunyai peran yang
cukup besar terhadap pelaksanaan pendidikan bagi anak didiknya, sebab dalam
kehidupan sehari-hari anak selalu dididik oleh guru di sekolah. Dengan demikian
orang tua diharapkan berperan serta aktif dalam pendidikan anak didiknya dengan
mendidik dan memberi motivasi belajar agar mereka memperoleh prestasi yang
optimal dan berupaya untuk memenuhi kebutuhan serta bimbingan terhadap
anak-anaknya sehingga anak tersebut memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga
negara yang baik. Hal ini sesuai dengan pendapat W. Sardiman dalam buku Ilmu
Pendidikan yang menyatakan bahwa,
“Pendidikan berarti usaha yang dijalankan oleh seseorang atau sekelompok
orang lain agar menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang
lebih tinggi dalam arti mental” (1992:4).
Dengan adanya motivasi dari guru,
maka akan timbul semangat dan keaktifan anak didik dalam belajar. Apabila guru
tidak mau memberikan dorongan atau motivasi kepada anaknya, maka anak akan
mengalami banyak kesulitan dalam belajar. Bagi anak yang memiliki motivasi akan
mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan-kegiatan belajar. Tetapi bagi
seorang yang memiliki intelegensi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi
yang tepat. Jadi jelaslah bahwa hasil belajar itu akan optimal apabila ada
motivasi yang tepat. Banyak hambatan dan rintangan, baik yang berasal dari luar
diri anak didik maupun dari dalam diri anak didik itu sendiri. Oleh sebab itu,
dorongan atau motivasi guru sangat diperlukan karena dapat menunjang keberhasilan
anak dalam mencapai prestasi di sekolah.
Dalam rangka memperoleh prestasi
belajar yang baik, maka diperlukan adanya kebiasaan-kebiasaan belajar yang
baik. Misalnya anak terbiasa belajar dengan teratur, tekun, rajin, dan juga
perlu ditanamkan kedisiplian. Semua ini dapat diperoleh dari dorongan-dorongan/mitivasi
dan pengawasan-pengawasan guru bekerja sama dengan orang tua, sehingga
dapat menemukan keberhasilan dalam belajar dan mencapai prestasi yang tinggi.
Dan prestasi belajar dapat diperoleh melalui proses belajar yang dilakukan
dengan penuh kesadaran dan berlangsung dalam waktu tertentu, misalnya dapat
berwujud perubahan tingkah laku maupun intelegensinya, jadi tidak benar bila
ada anggapan bahwa belajar hanya dapat dilakukan di sekolah saja, melainkan dapat
dilakukan pada setiap waktu. Berdasarkan inilah orang tua dapat menilai
seberapa jauh mereka memberikan dorongan/motivasi belajar bagi anak-anaknya
agar mencapai hasil yang baik.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Motivasi adalah
perubahan energi untuk melakukan serangkaian usaha sehingga tercapai tujuan
yang diinginkan dengan menghilangkan atau meniadakan hambatan-hambatan yang
ada.
Motivasi mempersioalkan bagaimana cara menggerakkan atau
mengarahkan seseorang agar mau berusaha untuk mencapai tujuan yang
diinginkan.dan dalam pendidikan motivasi sangaat penting dalam mengarahkan
siswa agar bisa meningkatkan cara belajar sehingga mampu berprestasi dalam
pendidikan sehingga tujuan pendidikan tercapai.pentingnya motivasi karena
motivasi adalah hal yang menyebabkanmenyalurkan dan dan mendukung perilaku
manusiasupaya mau bekerja secara giat sehingga mencapai hasil yang optimal.
Suatu kegiatan dapat berjalan dengan lancar karena
didasari oleh motivasi.
B. Saran
Penulisan makalah ini didasari jauh dari kesempurnaan,tiada
dgading yang tak retak.oleh karena itu kritik dan saran dari pembaca sangat
kami harapkan demi kesempurnaan karya yang selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar